Mohon komen di sini! ()

Selasa, 06 Mei 2014

ZOOPLANKTON

TUGAS ZOOPLANKTON


(ROTIFERA)

Disusun oleh :
Duwi Andini                                     (125080201111017)
Dwi Cahyo Ardianto                      (125080200111093)
Eka Niswatul Mufidah                    (125080201111019)
Erma Nurviana                                (125080201111016)
Hidayatus Zamaniyah                   (125080201111012)
Mochamad Hafiyan Abbad          (125080201111021)
Novi Sofiyantoro                            (125080200111103)
Riska Kurniawati                            (125080201111007)
Riski Yuliawati                                (125080201111006)
Nur Haryanto                                   (125080201111013)


PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG


2013





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................                        i
DAFTAR ISI.....................................................................................                        ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................                     1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................                    1
1.3 Tujuan.........................................................................................                      1
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Taksonomi dan Morfologi Rotifera..................................................             2
2.2 Habitat Rotifera............................................................................                  5
2.3 Perkembangbiakan Rotifera.............................................................           6
2.4  Peranan Rotifera Dalam Budidaya Perikanan..................................        7

BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN.............................................................................                  9         
3.2 SARAN.......................................................................................                    9         



DAFTAR PUSTAKA.........................................................................                   10




KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmannirohim.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah zooplankton yang berjudul “Rotifera”.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan tentang manfaat dari rotifer bagi dubia perikanan.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunannya, baik dalam penyajian data, bahasa maupun sistematika pembahasannya. Penulis juga mengharapkan masukan atau kritikan maupun saran yang bersifat membangun demi kesempurnaannya di  masa yang akan datang.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk, pedoman bagi pembaca dan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.



Malang, 4 Maret  2013


                                                                                                                        Penyusun

 BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Plankton adalah organisme air kecil yang hidup di air tawar dan lingkungan laut. Kata "plankton" berasal dari kata Yunani planktos, yang berarti "hanyut." Secara umum, plankton telah berarti sedikit atau tidak ada gerak dan distribusi mereka ditentukan terutama oleh arus air dan pencampuran. Namun, beberapa plankton dapat berenang melalui air kurang bergolak menggunakan flagella dan pelengkap lainnya (Jieang, 2011).
Zooplankton disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tidak dapat memproduksi sendiri bahan organic dari bahan anorganic. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya ia sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Ukuran zooplankton paling umum berkisar 0,2-2 mm, tetapi ada juga yang berukuran besar misalnya ubur-ubur bisa berukuran lebih dari satu meter (Nontji, 2008). 
Ada beberapa jenis dari zooplankton yang umumnya ditemukan di perairan air tawar. Yaitu protozoa, gastropoda, rotifera, bryozoa, coelenterata dan antropoda. Dan dalam hal ini kami akan membahas lebih dalam tentang rotifera.

1.2  Rumusan Masalah
a. bagaimana habitat dari rotifera?
b. bagaimana cara perkembangbiakan dari rotifera?
c. apa manfaat rotifera bagi dunia perikanan?
1.3 Tujuan
a. untuk mengetahui habitat dari rotifera.
b. untuk mengetahui cara perkembangan dari rotifera.
c. untuk mengetahui manfaat rotifer dalam dunia perikanan.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Taksonomi dan Morfologi Rotifera
Rotifera adalah golongan zooplankton, mikroskopis dan bergerak aktif. Rotifera atau rotatoria terdapat di segala penjuru dunia, meskipun beberapa jenis terdapat pada tempat-tempat tertentu. Dari 1.700 spesies, kebanyakan hidup di air tawar, hanya 50 spesies di laut,beberapa di hamparan lumur lumut yang basah. Rotifera termasuk metazoan yang paling kecil berukuran antara 40-2.500 mikron, rata-rata 200 mikron. Umumnya hidup bebas, soliter, koloni, atau sessile. Beberapa jenis merupakan endoparasit pada insang crustacea, telur siput, cacing tanah, dan dalam ganggang jenis Vaucheria dan Volvox. Biasanyua transparan, beberapa berwarna cerah seperti seperti merah atau coklat disebabkan warna saluran pencernaan. Rotifera  berasal dari kata Rota=roda/wheel ,Fera=to carry.
Jadi rotifera ialah hewan yang memilki roda di atas kepalanya jika dilihat dari mikroskop zooplankton. Makanan yang biasa dimakannya berupa partikel-partikel, fitoplankton. Rotifera dimanfaatkan sebagai pakan bagi larva ikan dalam pengoperasian balai benih fauna laut karena rotifera merupakan makanan awal atau sebagai pakan hidup yang penting untuk larva ikan laut . Pemanfaatannya sebagai pakan alami sangat populer karena rotifera mempunyai ciri biologi yang memenuhi kriteria pakan yang baik bagi larva fauna laut, antara lain, ukurannya yang relatif kecil (100-300 µm). Rotifera juga dianggap sebagai biokapsul yang cocok bagi larva kebanyakan fauna laut karena menjadi pentransfer nutrien dari lingkungan hidup ke larva tanpa efek polutan. Struktur tubuh rotifera terdiri atas kepala, badan, serta kaki atau ekor. Antara kepala dan badan tidak terlihat jelas pemisahannya, pada bagian kepala terdapat duri. Habitatnya kebanyakan di air payau/air laut.Memiliki beberapa jenis antara lain;
1.    Asphanchna sp.                                          6.  Conochilus sp.
2.    rotaria sp.                                                    7.  Floscularia sp.
3.    Squatinella sp.                                            8.  Kellicotta sp.
4.    Tricotia sp.                                                  9.  Hexarthara sp.
5.    Epiphanes sp.                                            10.  Synchaeta sp.
Fenomena biologi yang unik yang dimiliki rotifera adalah menyangkut kemampuannya mengubah pola reproduksi. Model reproduksi rotifera terdiri atas dua fase, yaitu partenogenesis dan seksual. Dalam kondisi optimal, rotifera bereproduksi secara partenogenesis atau tanpa kawin. Jika kondisi lingkungan berubah, betina mengalami perubahan ke reproduksi seksual. Rotifera dapat mengubah pola reproduksi dari aseksual menjadi seksual diawali dengan adanya stimulus dari luar.
Keanekaragaman rotifera barangkali tidak kalah dengan mikroba lainnya, tetapi nilai ini dapat diakui jika telah melalui serangkaian penelitian. Untuk itu, dibutuhkan kajian yang lebih dalam guna mendapatkan informasi tentang jenis-jenis rotifera yang ada di perairan pantai dan estuari Sulawesi Utara. Rotifera yang berhasil dikultur sampai saat ini masih terbatas pada jenis Brachionus spp. kelas Monogononta, sementara jenis lainnya diperkirakan masih cukup banyak. Penelitian ini bertujuan menentukan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kelimpahan rotifera dan membandingkannya berdasarkan musim, lokasi, dan pasang-surut. Dalam penelitian ini juga dibandingkan pemberian jenis pakan dan salinitas yang berbeda terhadap morfometri salah satu spesies rotifera yang melimpah dari beberapa lokasi dengan hasil kultur serta daur hidup.
Menurut Davis (1955) Brachionus plicatilismemiliki klasifikasi sebagai berikut:
Phylum        : Avertebrata
Klas             : Aschelmintes
Sub klas       : Rotaria
Ordo             : Eurotaria
Family          : Brachionidae
Sub family    : Brachioninae
Genus           : Brachionus
Species         :  Brachionus plicatilis
Tubuh  Brachionus plicatilis terbagi atas tiga bagian yaitu kepala, badan dan kaki atau ekor. Batas bagian kepala dengan badan tidak jelas, bagian kaki dan ekor berakhir dengan belahan yang disebut jari. Badannya dilapisi oleh kutikula yang tebal dan disebut lorika. Ujung depan tubuh dilengkapi dengan gelang-gelang silika  yang kelihatan melingkar seperti spiral disebut korona dan berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam mulut.
Tubuh  rotifera dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian anterior yang pendek ,badan yang besar dan kaki. Dibagian anterior terdapat corona dan mastax yang merukan ciri khas filum Rotifera. Corona terdiri atas darah sekitar mulut yang bercilia, dan cilia ini melebar di seputar tepi anterior hingga seperti bentuk mahkota.  Mastax terletak antara mulut dan pharynx. Mastax ialah pharynx yang berotot , bulat atau lonjong, dan bagian dalamnya terdapat trophi, semacam rahang berkitin. Trophi terdiri atas 7 buah gigi yang saling berhubungan. Mastax berfungsi untuk menangkap dan menggiling makanan,bentuknya beraneka ragam disesuaikan dengan tipe kebiasaan makan rotifera.
Tubuh tertutup epidermis yang merupakan lapisan tipis dan sinsitial, dengan jumlah nuclei yang selalu tetap. Epidermis menghasilkan cuticula, tipis sampai tebal, tergantung jenisnya, bahkan ada yang mengeras seperti cangkang disebut lorica. Lorica ada kalanya dihiasi galur-galur, duri yang pendek atau panjang dan dapat digerakkan,misalnya pada Filinia. Dibawah epidermis terdapat susunan otot melingkar dan membujur, namun tidak terorganisasi sebaik platyhelminthes.  Antara dinding tubuh dan organ dalam terdapat pseudocoelom yang berisi cairan dan sel-sel ameboid bercabang-cabang yang tersusun seperti jala sinsitial.
Mulut rotifera terletak dibagian ventral dan biasanya dikelilingi oleh sebagian corona. Daerah sekitar mulut (buccal field) pada beberapa jenis Collothecacca mengalami modifikasi,melebar sedemikian rupa hingga menyerupai corong, dan mulut terletak didasar corong. Jenis filter feeder memakan partikel organik yang lembut dengan bantuan aliran air yang dihasilkan cilia pada corona. Makanan dari mulut dialirkan ke Mastax.  Pharynx dihubungkan dengan perut oleh oesophagus.Perut berbentuk tabung atau kantong, berhubungan dengan usus yang pendek, cloaca dan berakhir pada anus. Jenis karnivora memakan protozoa , rotifera yang lebih kecil dan metazoa lain. Mangsa ditangkap dengan cara dicengram atau dijebak. Mangsa dicengkram menggunakan trophi yang berbentuk seperti penjepit,atau mangsa yang terjebak di dalam corong tidak dapat keluar karena cuping yang bersentae akan melipat kedalam dan berkerut ,hingga mangsa masuk ke mulut.
Untuk alat eksresi. Pada tiap sisi lateral terdapat sebuah protonephiridium dengan 2-8 flame bulb. Kedua protonephiridium tetsebut itu bersatu pada kantung kemih(bladder), yang bermuara pada bagian ventral cloaca. Isi bladder dikosongkan melalui anus dengan jalan kontraksi , dengan kecepatan satu sampai empat kali per menit. Pembuangan yang demikian cepat membuktikan bahwa fungsi protonephiridia adalah sebagai osmoregulator, yaitu membuang kelebihan air dari dalam tubuh.Dalam beberapa menit dikeluarkan sejumlah ciran yang setara dengan berat tubuh rotifera tersebut.
Pada susunan syaraf rotifera mempunyai otak yang terdiri dari massa ganlion,dorsal,dan terletak diatas mastax. Dari otak keluar sejumlah pasangan syaraf yang menuju keberbagai alat indera, antara lain ke mata dan antena. Beberapa jenis rotifera,terutama yang sesile tidak mempunyai mata.Mata berupa ocellus sederhana dan berjumlah tiga hingga lima.
Arti ekonomis.Ritofera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar.Disatu pihak memakan serpihan-serpihan organik dan ganggang bersel satu ,dilain pihak rotifera merupakan makanan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing-cacing dan crustacea.Brachionus merupakan rotifera yang banyak dibudidayakan sebagai makanan alami untuk larva ikan dan udang. Karena berukuran kecil sekitar 300 mikro,dan berkembang biak dengan cepat,hingga cocok untuk makanan burayakikan mas yang baru habis kuning telurnya.Didaerah tropis,Brachionus mulai bertelur pada umur 28 jam ,dan setelah 24 jam telur menetas.Selama hidupnya yang 11 hari ,seekor Brachionus menghasilkan  20 butir telur.Pada habitat yang tercemar bahan organik dan berlumut,biasanya banyak dijumpai Bdelloidea seperti Philodina dan Rotaria.

2.2  Habitat Rotifera
Habitat terkaya bagi rotifera dikenal sebagai zona vegetasi. Di sinilah kehidupan tanaman akan melimpah dan rotifera dapat ditemukan di atas permukaan tanaman atau memiliki gaya hidup sessile dengan menjadi permanantly melekat pada tanaman dengan menggunakan kaki mereka di ujung posterior (Artana, 2012).
Rotifer memiliki masa hidup yang tidak terlalu lama. Usia betina pada suhu 25◦C adalah antara 6-8 hari sedangkan yang jantan hanya 2 hari. Rotifer memiliki toleransi salinitas mulai dari 1-60 ppt, perubahan salinitas yang tiba-tiba dapat mengakibatkan kematian. Salinitas diatas 35 ppt akan mencegah terjadinya reproduksi seksual. Pencegahan ini merupakan hal yang diinginkan dalam kultur missal disebabkan karena keberadaan individu jantan dan kista akan mengurangi tingkat pertumbuhan populasi rotifera. Intensitas cahaya yang baik untuk kehidupan rotifer yaitu 2000-5000 lux, pH berkisar 7,5 sampai 8,5, kosentrasi amoniak bebas tidak boleh lebih dari 1 ppm. Rotifera bereproduksi setiap 18 jam sekali. Fekunditas total untuk seekor betina secara aseksual dan dalam kondisi yang baik maka 20-25 individu baru. Kuntitas dan kualitas makanan memberikan peranan penting dalam pertubuhan rotifer.
Telah ada bukti bahwa variasi dalam distribusi spasial rotifera dalam tubuh air hadir. Ada dikatakan distribusi vertikal di mana kedalaman adalah varaible kunci dalam faktor-faktor yang mempengaruhi rotifer tersebut. Kedalaman yang berbeda menyebabkan variasi suhu, oksigen, cahaya, kepadatan makanan, tekanan predator, dan faktor lainnya. Ini termasuk efek dari arus air memungkinkan spesies yang berbeda dari Rotifera untuk hadir pada kedalaman yang berbeda pada waktu tertentu.
Seiring dengan distribusi verticle, ada juga distribusi horizontal di mana spesies yang berbeda dari rotifera dapat ditemukan di sekitar tepi badan air dari mereka yang ditemukan di tengah. Faktor yang berkontribusi terhadap variasi ini meliputi gerakan gelombang dan arus, kelimpahan jenis rotifera cenderung meningkat dengan meningkatnya kelimpahan fitoplankton, dan menurun dengan meningkatnya suhu, salinitas, dan oksigen terlarut, konsentrasi oksigen, pH, dan suhu (Rimper, 2008).

2.3   Perkembangbiakan Rotifera
Reproduksi rotifer seperti halnya aschelminthes yang lain , semua rotifera juga dioecious. Reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih kecil dari yang betina, biasanya mengalami degenerasi yaitu tidak mempunyai alat pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja. Partenogenesis merupakan peristiwa yang umum terjadi. Perkawinan pada rotifera biasanya dengan jalan “hipodermic impregnation”, dimana sperma masuk melalui diding tubuh. Tiap nucleus pada ovari menjadi sebuah telur . Kebanyakan spesies mempunyai ovari dengan sepuluh sampai dua puluh nuclei, maka telur yang dihasilkan selama hidupnya tidak lebih dari jumlah tersebut.
Rotifera jantan siap melakukan perkawinan satu jam setelah menetas kemudian akan mati. Bila tidak menemukan rotifera betina , maka rotifera jantan akan mati pada umur 2 sampai 7 hari tergantung jenisnya.
 Pada mulanya betina miktik menghasilkan 1- 6 telur kecil. Betina miktik adalah betina yang dapat dibuahi. Telur yang dihasilkan oleh betina miktik akan menetas menjadi jantan. Jantan ini akan membuahi betina miktik dan menghasilkan 1-2 telur istirahat. Telur ini mengalami masa istirahat sebelum menetas menjadi betina amiktk. Betina amiktik adalah betina yang tidak dapat dibuahi. Dari betina amiktik yang terjadi ini maka reproduksi secara aseksual akan terjadi lagi. Betina miktik hanya akan menghasilkan telur miktik demikian pula sebaliknya.
Walaupun telah banyak literatur yang menerangkan adanya perubahan antara betina amiktik menjadi betina miktik ini, namun pembiakan secara bisexual ini belum banyak diketahui secara jelas. Untuk beberapa genera  dari famili Brachionidae diketahui bahwa kondisi yang menentukan seekor betina menjadi amiktik atau miktik terjadi beberapa saat sebelum telur mulai membelah. Hal ini juga menunjukkan banwa yang mngontrol produksi betina miktik ini pada umumnya adalah kondisi lingkungan (faktor luar) dan bukan merupakan faktor dalam semata (Davis, 1955).

2.4  Peranan Rotifera Dalam Budidaya Perikanan
Arti ekonomis.Ritofera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar. Disatu pihak memakan serpihan-serpihan organik dan ganggang bersel satu, dilain pihak rotifera merupakan makanan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing-cacing dan crustacea. Brachionus merupakan rotifera yang banyak dibudidayakan sebagai makanan alami untuk larva ikan dan udang. Karena berukuran kecil sekitar 300 mikro,dan berkembang biak dengan cepat, hingga cocok untuk makanan burayakikan mas yang baru habis kuning telurnya. Didaerah tropis, Brachionus mulai bertelur pada umur 28 jam ,dan setelah 24 jam telur menetas.Selama hidupnya yang 11 hari ,seekor Brachionus menghasilkan  20 butir telur. Pada habitat yang tercemar bahan organik dan berlumut, biasanya banyak dijumpai Bdelloidea seperti Philodina dan Rotaria.
Brachionus plicatilis  merupakan jenis plankton hewani yang hidup di perairan litoral dan termasuk pakan larva ikan laut yang penting. Dalam percobaan pembenihan ikan laut, rotifera diberikan sebagai pakan larva selama kurang lebih satu bulan.

Budidaya ikan secara komersial dari berbagai jenis species-species diantaranya bivalve, crustaceae, dan ikan bertulang belakang akan mengalami permasalahan yang serius apabila didalam proses produksinya tidak tersedia pakan alami yang kontinyu baik kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini dikarenakan masih banyak jenis kultivan budidaya yang masih tergantung input pakan dari pakan organisme hidup, terutama untuk pemeliharaan kultivan dalam bentuk larva. Dilain pihak, budidaya pakan alami harus menyesuaikan dengan kebutuhan kultivan ikan yang dipelihara. Untuk memenuhi kebutuhankultivan tersebut disyaratkan sifat fisiologi jenis/species pakan hidup yang dikultur, ukuran, kecepatan reproduksi, kemampuan tumbuh, dan nilai nutrisi dari setiap jenis pakan alami.  Dengan perkembangan kebutuhan pangan penduduk dunia saat ini, maka peningkatan budidaya perikanan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Pengembangan budidaya perikanan baik di perairan tawar, payau maupun laut diberbagai negara merupakan suatu bentuk revolusi pertumbuhan industri baru. Kenyataan ini selaras dengan bertambahnya populasi penduduk dunia dari tahun ketahun, permintaan akan pangan dunia, potensi produksi perikanan yang sudah mencapai maximum sustainable yield, produksi pertanian yang semakin menurun akibat pergeseran tata guna lahan untuk keperluan lain dan permintaan kualitas hidup perkapita meningkat. Dengan demikian permintaan akan pangan dari sumber hewani juga akan meningkat, lebih-lebih dilihat dari kandungan protein ikan yang mempuyai kandungan asam amino yanglebih lengkap dari pada sumber protein hewani lainnya.  Untuk memenuhi kebutuhan gizi dari sumber protein hewani ikan diperlukan pengembangan budidaya perikanan dan untuk mendukung produksi sesuai dengan kuantitas maupun kualitas produk ikan, maka diperlukan ketersediaan pakan alami. Penyediaan pakan alami baik kuantitas, kualitas dan kontinuitas diperlukan pengetahuan tentang teknik dasar budidaya pakan alami yang baik agar kontinyuitas produksi ikan hasil budidaya dapat terpenuhi sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagaian besar larva ikan umumnya memakan tumbuhan dan atau hewan yang berukuran 4-200 mikron. Jenis tumbuhan dan hewan tersebut termasuk didalamnya adalah plankton, yakni organisme yang hidup melayang  dalam air gerakannya selalu mengikuti arus. Namun demikian dari sejumlah spesies yang diketahui tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami bagi pemeliharaan larva, organisme yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan alami dalam pemliharaan larva harua memenuhi kriteria tertentu yaitu: ukuran sel sesuai dengan bukaan mulut larva, kandungan nutrisi cukup tinggi, mudah dicerna dan dapat diserap dalam tubuh larva, gerakannya lambat sehingga larva ikan mudah menangkapnya, mudah dikultur dan mampu bertahan hidup terhadap lingkungan yang fluktuatif salinitas, suhu, dan intensitas cahaya, pertumbuhan populasi membutuhkan waktu yang relatif cepat sehingga dengan segera dapat digunakan dalam keadaan segar dan hidup, usaha pembudidayaannya memerlukan biaya yang relatif sedikit, selama daur hidupnya tidak menghasilkan bahan beracun yang dapat membahayakan kehidupan larva.
 Dari kriteria tersebut Brachionus plicatilis telah memenuhi syarat untuk dapat digunakan sebagai pakan alami larva ikan karena memiliki ukuran yang relatif kecil, lambat dalam berenang, mudah dibudidayakan, mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi yang tinggi serta diperkaya dengan asam lemak dan antibiotik.




BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
    1) Kelimpahan jenis rotifera cenderung meningkat dengan meningkatnya kelimpahan fitoplankton, dan menurun dengan meningkatnya suhu, salinitas, dan oksigen terlarut, konsentrasi oksigen, pH, dan suhu.
         2)    Reproduksi rotifer seperti halnya aschelminthes reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih kecil dari yang betina, biasanya mengalami degenerasi yaitu tidak mempunyai alat pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja. Partenogenesis merupakan peristiwa yang umum terjadi. Perkawinan pada rotifera biasanya dengan jalan “hipodermic impregnation”, dimana sperma masuk melalui diding tubuh. Tiap nucleus pada ovari menjadi sebuah telur . Kebanyakan spesies mempunyai ovari dengan sepuluh sampai dua puluh nuclei, maka telur yang dihasilkan selama hidupnya tidak lebih dari jumlah tersebut. Rotifera jantan siap melakukan perkawinan satu jam setelah menetas kemudian akan mati. Bila tidak menemukan rotifera betina , maka rotifera jantan akan mati pada umur 2 sampai 7 hari tergantung jenisnya.  3)    Arti ekonomis. Ritofera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar. Disatu pihak memakan serpihan-serpihan organik dan ganggang bersel satu, dilain pihak rotifera merupakan makanan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing-cacing dan crustacea. Brachionus merupakan rotifera yang banyak dibudidayakan sebagai makanan alami untuk larva ikan dan udang.

3.2  Saran
   Untuk para pembudidaya perikanan sebaiknya tidak ada salahnya untuk mencoba membudidayaka rotifer. Karena telah dijelaskan di atas bahwa rotifer baik untuk pakan ikan apalagi ikan yang masih larva serta ikan-ikan kecil.








DAFTAR PUSTAKA
Artana, Pande. 2012. Rotifer.  http://pande-artana.blogspot.com/2012/01/rotifera-brachionus-plicatilis-dan.html. Diakses tanggal 2 Maret 2013. Pukul 10.50 WIB
Davis, Charles C. 1955. The Marine and Fresh-Water Plankton. Michingan State University Press.
Jieang, Radenmas. 2011. Pengertian Plankton. http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2231452-pengertian-plankton/. Diakses tanggal 1 Maret 2013. Pukul 11.08 WIB
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut. Jakarta: LIPI Press
Rimper,J.R.T.S.L. 2008. Bioekologi Rotifera dari Perairan Pantai dan Estuari Sulawesi Utara. Vol. 31, (1): 59-68













Rabu, 23 April 2014

Proposal Pemasaran Ikan Lele (Clarias sp.)


ANALISIS EFISIENSI USAHA PEMBESARAN dan PEMASARAN IKAN LELE (Clarias sp.) DI PARE KEDIRI
(Studi kasus di Desa Sambirejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri)

disusun sebagai Tugas Terstruktur Kuliah Pemasaran Hasil Perikanan Semeter Genap 2013/2014

 

DOSEN PEMBIMBING:
ZAINAL ABIDIN, S.Pi, MP, M.BA

DISUSUN OLEH :
NAMA  : RISKA KURNIAWATI
NIM       : 125080201111007
KELAS : P1




PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan lele (clarias sp.) merupakan ikan air tawar yang mampu beradaptasi yang sangat tinggi pada lingkungan yang kurang baik. Namun nilai gizi maupun protein yang terkandung dalam ikan ini sangatlah tinggi. Sehingga masyarakat menjadikan lele sebagai ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan lele banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena kandungan gizi yang tinggi membuat peluang usahanya semakin terbuka. Mulai dari usaha pembenihan, pembesaran hingga usaha pengolahan.
Kecamatan Pare Kabupaten Kediri merupakan salah satu daerah perikanan budidaya dimana komoditas utamanya adalah ikan lele (clarias sp.). Dan sebagian besar masyarakat sekitar mempunyai mata pencaharian pada sub sektor perikanan darat.
Konsumsi ikan lele pada beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat. Peningkatan permintaan ikan lele berasal dari sekitar 25.000 pedagang warung pecel lele sehingga Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Perikanan akan mengupayakan peringkatan produksi ikan lele 450% yaitu dari 200.000 ton tahun 2009 menjadi 900.000 ton pada tahun 2014 (KKP (2010) dalam Jaja, 2013). Usaha peningkatan produksi ikan lele sangat diperlukan mengingat sudah berubahnya pandangan masyarakat terhadap ikan lele, jika dahulu ikan lele di pandang ikan murahan dan hanya dikonsumsi oleh keluarga petani, sekarang ikan lele merupakan komoditas yang sangat disukai oleh masyarakat (Jaja, 2013).
Ada beberapa hal yang mendorong masyarakat untuk membudidayakan ikan lele: 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidayanya mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah, dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif  rendah (Nguntoronadi (2008) dalam Yulinda, 2012).
Desa Sambirejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri merupakan salah satu desa yang sedang berkembang dalam usaha pembesaran dan pemasaran ikan lele. Hal ini menjadi dasar perlunya pengkajian keefisiensian usaha pembesaran dan pemasaran ikan lele di desa Sambirejo tersebut.




1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
       a.       Bagaimana kelayakan usaha dan efisiensi usaha dalam usaha pembesaran dan  pemasaran ikan lele di desa Sambirejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri?
       b.      Bagaimana prospek pengembangan produk olahan ikan lele dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah tersebut?

1.3 Tujuan Masalah
       a.     Mengetahui kelayakan usaha dan efisiensi usaha dalam usaha pembesaran dan pemasaran ikan lele.
      b.    Mengetahui prospek pengembangan produk olahan ikan lele untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah tersebut.


  


II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran
Pemasaran adalah sebuah proses sosial dan manajerial yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka, dengan cara mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak-pihak lain (Kotler and Gary (1997) dalam Setiati, 2005)
Usaha perbaikan dibidang pemasaran memegang peranan penting karena usaha peningkatan produksi saja tidak akan meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan lele bila tidak didukung dan dihubungkan dengan situasi pasar. Situasi demikian sangat menentukan keefisiensian suatu usaha. Pemasaran dianggap efisien apabila mampu menyampaikan hasil dari produsen ke konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat dalam produksi dan pemasaran barang tersebut. Apabila bagian yang diterima pembudidaya ikan lele menguntungkan, hal ini akan merangsang pembudidaya ikan lele lainnya untuk meningkatkan produksinya. Dalam penyampaian komoditas dari produsen ke konsumen terdapat beberapa kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh lembaga perantara seperti pengangkutan jarak antara pembudidaya dan konsumen akan mencerminkan panjang pendeknya saluran pemasaran. Adanya biaya pada setiap lembaga pemasaran akan mengambil keuntungan atas segala jasa atau peran aktif sebagai penghubung antara produsen dan konsumen. Hal ini akan mendorong terjadinya berbagai perbedaan harga pada masing-masing lembaga pemasaran (Kotler, 2002 dalam Apriono, 2012).
Untuk mencapai tujuan pemasaran yang efisien maka para penduduk di desa Sambirejo harus memperhatikan beberapa konsep pemasaran ikan lele di daerahnya agar hubungan antara pembesaran dan pemasaran berjalan dengan seimbang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gates and McDaniel (2001) yang menyatakan bahwa agar mencapai agar pemasaran menjadi efisien maka harus menganut konsep pemasaran seperti: 1). Orientasi konsumen, 2) Orientasi tujuan, dan 3) Orientasi sistem. Orientasi konsumen berati mengidentifikasi dan fokus pada orang-orang dan perusahaan yang kemungkinan besar akan membeli produk dan produksi barang dan jasa yang akan memberi kebutuhan mereka yang lebih efektif. Orientasi tujuan fokus pada pencapaian tujuan perusahaan yaitu memenuhi kebutuhan konsumen. Orientasi sistem ditekankan pada pengawasan lingkungan eksternal dan mengirimkan bauran pemasaran ke pasar sasaran.
2.2  Pembesaran dan Pemasaran Ikan Lele
       2.2.1 Pembesaran Ikan Lele
          Menurut Budianto (2005) dalam pembesaran ikan lele maka di perlukan pemahaman terhadap 3 manajemen yaitu:
1. Manajemen Pakan
Dalam pemberian pakan ikan lele maka diperlukan manajemen pakan sehingga komposisi nutrisi yang di berikan pada lele seimbang dan membuat lele menjadi berkualitas. Pakan ikan lele dapat berupa pakan alami dan pakan buatan. Pakan buatan sering disebut pelet, sedangkan pakan alami bisa berupa plankton, jentik-jentik, dan lain-lain.
2. Manajemen air
Ukuran kualitas air dapat dinilai scara fisik berupa kejernihannya, dan tingkat kecerahannya. Semakin padat sebaran lele di dalam kolam, maka akan semakin cepat kotor dalam air, dan akan menghambat pertumbuhan ikan lele. Sehinnga perlu diadakan sistem manajemen air.
3. Manajemen Kesehatan
Kesehatan lele sangat menentukan kualitasnya, lele dengan kesehatan yang baik maka akan berkualitas. Pemberian nutrisi ikan terutama pada lele sangat diperlukan sehingga tingkat penyakit dalam pembudidayaan ikan lele dapat diminimalisir.
       2.2.2 Keuntungan Budidaya Lele
              Keuntungan memilih usaha budidaya ikan lele menurut Budianto (2005) antara lain:
1.    Tahan banting terhadap kondisi perairan yang kurang baik.
2.    Masa pemeliharaan lebih singkat dibandingkan dengan pemeliharaan ikan tawar lainnya.
3.    Teknik pemeliharaan cukup sederhana
4.    Siklus keuangan cukup cepat karena siklus pembenihan dan pembesarannya relatif singkat sehingga biaya yang dikeluarkan tidak terlampau tinggi.
5.    Benih ikan lele relatif lebih murah dan gampang diperoleh.
6.    Relatif tahan penyakit.
7.    Permintaan pasar stabil dan terus meningkat.
Berdasar kemudahan-kemudahan tersebut usaha pembesaran ikan lele semakin hari semakin diminati.


2.2.3 Prospek Pasar Lele
Pada tahun 2004, konsumsi ikan lele hanya terhitung 22,58 kg per kapita per tahun. Pada tahun 2007, meningkat menjadi 28,28 kg per kapita per tahun. Dan pada tahun 2008 naik menjadi 29,98 kg per kapita per tahun. Seiring dengan bertambahnya penduduk dunia kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani semakin meningkat. Sehingga menjadikan masyarakat terus membudidayakan ikan. Lele sebagai salah satu hasil budidaya ikan yang sangat diminati masyarakat sekarang ini, menjadikan para pembudidaya ikan lele semakin meningkat pula (Budianto, 2005). Budidaya ikan lele merupakan kegiatan budidaya ikan yang mudah, anggapan ini tidak semua salah dan tidak semua benar, anggapan ini benar apabila ditinjau dari segi teknis. Ikan lele merupakan ikan yang mampu hidup dalam kondisi perairan yang kurang baik sekalipun, tahan terhadap penyakit, dapat ditebar dengan kepadatan yang tinggi, tahan terhadap perlakuan fisik yang kasar saat panen, dagingnya disukai oleh masyarakat. Berdasar kemudahan tersebuta maka banyak para masyarakat yang semakin berminat dalam kegiatan pembudidayaan ikan lele, namun setelah hal ini dipraktikkan tidak semua orang dapat memperoleh keuntungan yang sesuai diharapkan (Prihartono, Juansyah dan Usni (2010) dalam  Jaja, 2013).
Pembesaran ikan lele adalah segmen usaha yang mengkhususkan pembesaran hingga mencapai ukuran konsumsi. Dan saat ini keuntungan usaha budidaya ikan lele sangat bergantung pada kemampuan pembudidaya seperti benih yang bagus dan murah, nilai konversi pakan menjadi daging yang rendah (Suyanto, 2011). Penguasaan pasar menjadi sangat penting mengingat bandar ikan memegang peran dalam hal pemberian modal bagi penjual ikan di pasar (Nugroho, 2007).







III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis penelitian
Penelitian dengan judul “Analisis Efisiensi Usaha Pembesaran Dan Pemasaran Ikan Lele (Clarias Sp.) Di Pare Kediri” merupakan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Maksudnya adalah penelitian kualitatif mengacu pada suatu maksud atau arti, konsep-konsep, definisi, karakteristik, simbol-simbol dan deskripsi dari berbagai hal. Data kuantitatif dianalisis dengan analisis marjin, profit marjin dan analisis rantai nilai.
3.2 Jenis dan sumber data
1. Pengumpulan data primer
Dilakukan dengan cara melakukan observasi dan wawancara secara terstruktur dengan sejumlah responden berdasarkan instrument (kuesioner) yang telah dipersiapkan sebelumnya.
 2. Pengumpulan data sekunder
 Berupa kajian terhadap laporan pihak terkait guna memperkuat berbagai informasi yang diperoleh dari data primer.
3.3 Metode Pengambilan Data
Dalam penelitian ini pengambilan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Metode Interview (Wawancara)
  Wawancara    ini dilakukan berdasarkan daftar pertanyaan yang teah disusun sebelumnya sehingga sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam hal ini dipersiapkan dulu pertanyaan sebagai pedoman tetapi masih dimungkinkan adanya variasi pertanyaan, yang sesuai dengan situasi ketika wawancara akan dilaksanakan.
b. Observasi
Observasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta berdasarakan pengamatan penelitian.
c. Mencatat, mengumpulkan, dan mengkaji data dari responden dan pihak yang terkait     
    dengan penelitian ini.
3.4 Populasi dan Sampel
 Populasi pembudidaya ikan lele di desa Sambirejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri yaitu 65 orang pembudidaya ikan lele yang tergabung ke dalam tujuh kelompok pembudidaya. Sampel pembudidaya yang diambil sebanyak 32 orang pembudidaya ikan lele dari total pembudidaya di desa Sambirejo yang dipilih secara proporsional dari tujuh kelompok pembudidaya yang melakukan pemasaran ikan lele melalui saluran pemasaran yang ada di desa Sambirejo. Untuk sampel lembaga pemasaran yang terlibat diambil keseluruhan populasi yang ada yaitu 3 pedagang pengecer, 2 pedagang besar dan 1 pedagang pengumpul.
3.5 Metode Penentuan Jumlah Sampel
Sebenarnya, tidak ada aturan yang baku dalam menentukan jumlah sampel dari suatu populasi. Pada dasarnya, semakin besar jumlah sampelnya, semakin akurat penelitiannya. Tetapi besar kecilnya sampel akan sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya biaya, tenaga, dan waktu yang tersedia.
 3.6 Metode Penentuan Sampel (sampling technique),
Teknik pengambilan sample dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling). Penentuan sample pedagang ditelusuri secara snowball.
3.7 Metode Analisa Data
Analisis Marjin Pemasaran :

MP= Pr - Pf

 Atau


Keterangan: MP = marjin pemasaran (Rp/kg);
                    Pr = harga konsumen (Rp/kg);
                  Pf = harga produsen (Rp/kg);
                    Bpi = biaya lembaga pemasaran ke i(Rp/ kg);
                    Kpi = keuntungan pemasaran ke i (Rp/ kg);


Share keuntungan dapat juga digunakan untuk menganalisis efisiensi pemasaran dengan formulasi sebagai berikut:

SKi = (Ki) / (Pr – Pf) x 100 %
Sbi = (Bi) / (Pr – Pf) x 100 %
Keterangan:
Ski = share keuntungan lembaga pemasaran ke i;
                                    Sbi = share biaya pemasaran ke i.







DAFTAR PUSTAKA
Apriono, Dani; Eva Dolorosa; dan Imelda. 2012. Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Ikan Lele Di Desa Rasau Jaya 1 Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. Vol 1(3): 29-36 hal
Budianto, Hendro. 2005. Budidaya Unggul Lele Phyton. Pustaka Baru Press. Yogyakarta. 22-28 hal.
Gates, Roger and Carl McDaniel. 2001. Riset Pemasaran Kontemporer. Terjemahan Sumiyarto dan Rambat Lupiyoadi. Salemba Empat. Jakarta. Hal 5
Jaja; Ani Suryani; dan Komar Sumantadinata. 2013. Usaha Pembesaran dan Pemasaran Ikan Lele serta Strategi Pengembangannya di UD Sumber Rezeki Parung, Jawa Barat. Jurnal Manajemen IKM. Vol  8(1): 45-56 hal
Nugroho, E. 2007. Kiat Agribisnis Lele. Penebar Swadaya. Jakarta
Setiati, Eni. 2005. Memenangkan Pasar dengan Produk Unggulan. Edisi I. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Suyanto, R. 2011. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya. Jakarta
Yulinda, Eni. 2012. Analisi Finansial Usaha Pembenihan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Di Kelurahan Lembah Sari Kecamatan Rumbai Pesisir Kota Pekanbaru Provinsi Riau.  Jurnal Perikanan dan  Kelautan. Vol 17(1): 38-55 hal